Kemarau Terik hingga Suhu Panas Ekstrem Mencapai Puncak pada Oktober, Menurut BRIN

Berita120 Dilihat

Selasa, 3 Oktober 2023 – 16:27 WIB

Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan puncak kemarau terik di Indonesia yang menyebabkan suhu panas ekstrem diprediksi mencapai puncak pada Oktober 2023.

Baca Juga :

Suhu Panas di Sejumlah Daerah Tak Hanya karena El Nino tapi Juga IOD, Kata Peneliti BRIN

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Eddy Hermawan mengatakan, saat kondisi normal musim kemarau terjadi pada Juni sampai Agustus, namun akibat pengaruh El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) bergeser ke Oktober.

“Sekarang El Nino positif dan IOD juga positif, keduanya mencapai puncak sekitar Oktober 2023,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Selasa, 3 Oktober 2023.

Baca Juga :

4 Penyakit Berbahaya yang Wajib Diwaspadai Saat Cuaca Panas Ekstrem

Kekeringan parah di persawahan Kecamatan Ruteng Kabupaten Manggarai NTT. (Foto ilustrasi).

Kedua fenomena osilasi suhu air permukaan laut–El Nino di Samudera Pasifik dan IOD di sebelah barat Samudera Hindia–menyebabkan negara yang terletak di garis khatulistiwa seperti Indonesia merasakan dampak cukup masif.

Baca Juga :

Awal Musim Hujan di NTB Diprakirakan Pertengahan November

Beberapa daerah di Indonesia yang diprediksi mengalami suhu panas ekstrem, di antaranya Kota Surabaya dengan suhu tertinggi diprediksi mencapai 43 derajat celcius, Kota Semarang mencapai 40 derajat celcius, dan Jakarta dengan suku udara maksimum 37 derajat celcius pada pertengahan Oktober 2023.

Eddy menjelaskan semua uap air dan awan hujan ditarik ke arah utara dan barat karena pusat tekanan rendah berada di Samudera Pasifik dan sebelah barat Samudera Hindia tempat terjadinya El Nino dan IOD.

Kondisi itu membuat Indonesia yang terletak di antara kedua fenomena tersebut mengalami musim kering yang cenderung panjang.

“Saya berharap Oktober 2023 adalah akhir dari cerita kemarau terik. El Nino dan IOD diprediksi menuju fase netral pada akhir Februari atau awal Maret 2024,” katanya.

Sementara itu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan Cilacap adalah daerah yang saat ini mengalami kekeringan ekstrem karena lebih dari 60 hari tidak hujan.

Wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem di Cilacap, di antaranya Kecamatan Majenang, Wanareja, Cimanggu, Cipari, dan Karangpucung, sedangkan wilayah lainnya masuk kategori menengah hingga sangat panjang atau 11-60 hari tidak hujan. (ant)

Halaman Selanjutnya

Eddy menjelaskan semua uap air dan awan hujan ditarik ke arah utara dan barat karena pusat tekanan rendah berada di Samudera Pasifik dan sebelah barat Samudera Hindia tempat terjadinya El Nino dan IOD.

Halaman Selanjutnya



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *