Apa itu Virus Nipah yang Makan Korban di India?

Berita130 Dilihat

Senin, 18 September 2023 – 14:20 WIB

VIVA – Negara bagian Kerala di India Selatan telah meningkatkan pemeriksaan dan penelusuran kontak menyusul dua kasus kematian baru-baru ini. Dua kasus kematian itu diduga karena virus nipah. 

Baca Juga :

2 Kasus Kematian Virus Nipah di Kerala India, Virus Nipah Lebih Parah dari Omicron?

Sekolah dan kantor di sebagian negara telah ditutup akibat virus itu demi menghentikan penyebaran. Lantas, apa itu virus nipah? Dan bagaimana cara mengatasinya? Simak informasi selengkapnya berikut ini.

Apa itu Virus Nipah?

Baca Juga :

Kenali 6 Gejala dan Bahaya Virus Nipah yang Makan Korban Jiwa di India

Virus Nipah merupakan sebuah virus zoonotik yang pertama kali ditemukan saat menyebabkan wabah penyakit di Kampung Sungai Nipah, Malaysia pada tahun 1998-1999. 

Baca Juga :

Misteri Kerangka Ibu dan Anak di Depok Mirip Peristiwa Kalideres, Begini Fakta-faktanya

Sejak itu, wabah kecil namun berulang dari infeksi virus Nipah telah terjadi di beberapa negara Asia Tenggara. Virus ini memicu perhatian global karena potensinya yang mematikan dan kemampuannya untuk menyebar dengan cepat.

Dikutip dari situs Infeksi Emerging, Senin, 18 September 2023, sejak tahun 1998 hingga saat ini, telah dilaporkan sebanyak 700 kasus pada manusia dengan 407 kematian di 5 negara (Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Filipina). Sebagian besar kasus (48% atau 336 kasus) dan kematian (58,5% atau 238 kematian) dilaporkan di Bangladesh.

Wabah terkini dilaporkan pada 4 Januari hingga 13 Februari 2023 di Bangladesh dengan 11 kasus (10 kasus konfirmasi dan 1 probable) dan 8 kematian (CFR: 73%). Dari 11 kasus yang ditemukan, 10 kasus memiliki riwayat konsumsi date palm sap (getah kurma) dan 1 kasus merupakan kasus kontak erat (dokter yang merawat salah satu kasus) 

Baca Juga  LOKER PRAMUNIAGA, KASIR DI BATIK BENANG RATU SEMARANG ~ Loker Indonesia

Sumber dan Penyebaran

Ilustrasi kelelawar

Virus Nipah berasal dari spesies kelelawar buah tertentu, yang dikenal sebagai kelelawar Pteropus. Kelelawar ini adalah reservoir alami virus Nipah, yang dapat menularkannya ke hewan lain atau manusia. 

Pada banyak kasus, penularan kepada manusia terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, seperti babi. Namun, penularan langsung dari kelelawar ke manusia dan dari manusia ke manusia juga telah didokumentasikan.

Gejala

Infeksi virus Nipah bisa menimbulkan gejala ringan hingga berat. Gejala awal infeksi biasanya mirip dengan flu, termasuk demam, sakit kepala, dan kelemahan otot. 

Namun, kondisi bisa memburuk dengan cepat, menyebabkan peradangan pada otak (ensefalitis) dan gejala neurologis lainnya. Dalam kasus yang parah, infeksi dapat menyebabkan koma atau kematian.

Waktu timbul gejala umumnya 4-14 hari setelah terpapar virus nipah. Namun, terdapat laporan bahwa masa inkubasi hingga 45 hari. Rata-rata kematian (case fatality rate) diperkirakan berkisar 40% hingga 75%.

Rata-rata tersebut dapat berbeda tergantung pada kemampuan wilayah setempat dalam melakukan penyelidikan epidemiologi, surveilans, dan manajemen klinis kasus.

Pencegahan dan Pengendalian

Lockdown di India karena virus Nipah.

Lockdown di India karena virus Nipah.

Saat ini, belum ada vaksin yang tersedia untuk mencegah infeksi virus Nipah di kalangan manusia atau hewan. Pencegahan utama adalah menghindari kontak langsung dengan kelelawar dan hewan yang mungkin terinfeksi. 
Selain itu, konsumsi produk hewan mentah atau setengah matang harus dihindari, khususnya di daerah yang diketahui mengalami wabah.

Dalam konteks medis, isolasi pasien yang terinfeksi adalah kunci untuk mengendalikan penyebaran virus. Semua peralatan medis yang digunakan harus disterilkan, dan tenaga medis harus memakai alat pelindung diri.

Virus Nipah adalah patogen yang mematikan dengan potensi menyebabkan wabah global. Meski saat ini belum ada vaksin atau pengobatan khusus untuk infeksi virus Nipah, tindakan pencegahan yang tepat dan respons cepat saat terjadi wabah adalah kunci untuk mengurangi dampak dari virus ini.

Halaman Selanjutnya



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *